Subscribe to our RSS Feeds
Hello, this is a sample text to show how you can display a short information about you and or your blog. You can use this space to display text or image introduction or to display 468 x 60 ads and to maximize your earnings.
Tampilkan postingan dengan label Zionis Israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zionis Israel. Tampilkan semua postingan

Setelah Lelah Dibantai

0 Comments »
Hamas Akhiri Perang
[JP Online, Senin, 19 Januari 2009]

KOTA GAZA - Harapan konflik berdarah di Gaza berakhir akhirnya terwujud. Dua pihak yang bertikai sama-sama menyatakan gencatan senjata kemarin. Tim perunding dari kelompok pejuang Hamas menyatakan penghentian baku tembak di Jalur Gaza selama satu minggu. Keputusan itu hanya berselang 12 jam dari pengumuman Israel untuk mengakhiri agresinya ke Gaza dengan melakukan gencatan senjata sepihak mulai Minggu pukul 02.00 waktu setempat (kemarin pukul 07.00 WIB).

Juru bicara Hamas Ayman Taha menyatakan, tempo satu minggu dalam gencatan senjata yang ditetapkan Hamas itu untuk memberi waktu Israel menarik seluruh serdadunya dari Gaza. "Pernyataan saya ini mewakili semua faksi di Palestina, bukan hanya Hamas," ujarnya di Kairo tadi malam.

Pernyataan gencatan senjata Hamas juga disampaikan wakil mereka di Syria, Moussa Abu Marzouk. "Selain serdadu Israel harus pergi dalam tempo satu minggu, Hamas menuntut pembukaan titik perlintasan bagi masuknya bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina," ujarnya didampingi para pejabat dari berbagai organisasi yang punya kaitan dengan Hamas.

Sebelumnya, Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak, Sabtu (17/1), setelah melakukan serangan selama 22 hari ke Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. Namun, tentara Israel masih akan berada di wilayah Palestina.

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, setelah sidang kabinet mengatakan, Israel telah meraih tujuannya dan situasi Gaza sesuai yang diinginkan. Olmert mengatakan, gencatan senjata akan dilakukan mulai Minggu (18/1) pukul 02.00 waktu setempat. Namun, dalam pidatonya Olmert tidak menyebutkan berapa lama Isarel akan menghentikan serangannya. "Jika Hamas menghentikan serangan, militer Israel akan berangsur-angsur keluar dari wilayah Gaza pada waktunya," ujar Olmert.

Lima jam setelah gencatan senjata sepihak diumumkan, dampaknya terasa dengan tidak ada satu pun kabar serangan udara dan pertempuran besar di Gaza. Wilayah berpenduduk 1,5 juta jiwa itu untuk kali pertama melewati malam tanpa hujanan bom dalam tiga pekan agresi Israel. Suasana tenang terutama berlaku di sepanjang pantai Jalur Gaza setelah Israel mengistirahatkan mesin-mesin perangnya yang diikuti berhentinya serangan para pejuang Palestina.

Namun, saat hari mulai terang, sekitar pukul 07.00 waktu setempat, Hamas kembali menembakkan lusinan roket ke wilayah Israel. Sumber militer Israel menyebutkan, militan Gaza juga telah melancarkan delapan roket ke Israel saat Olmert mengumumkan gencatan senjata. Dilaporkan Radio Israel, lima roket meledak di dekat Kota Beersheba lima jam setelah Olmert mengatakan pernyataan gencatan senjata.

Osama Hamdan, perwakilan Hamas di Lebanon, dalam wawancaranya dengan televisi Al-Jazeera yang berbasis di Doha, mengatakan, Hamas tidak ada kaitannya dengan gencatan senjata sepihak Israel."Kami telah menegaskan, jika tentara Israel tetap berada di Gaza, ini akan menjadi pintu lebar bagi (bangkitnya) perlawanan menghadapi pendudukan."Sayap bersenjata Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Brigade Al-Qassam, berikrar akan melanjutkan perlawanan. Dalam pernyataan yang dikirim kepada wartawan, Brigade Al-Qassam menyatakan, "Pengumuman Olmert memperlihatkan Israel kalah dalam menghadapi perlawanan bersenjata Palestina dan pengumuman gencatan senjata sepihak Israel adalah bukti mengenai kegagalan pendudukan."

Namun, semua penolakan faksi Hamas itu berubah setelah para pemimpin mereka di pengasingan menyatakan gencatan senjata diberlakukan. Penerimaan Hamas untuk mengakhiri perang disampaikan menjelang pertemuan internasional di Kairo, Mesir, yang dihadiri sejumlah pemimpin Eropa dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk mengupayakan gencatan senjata langgeng antara Israel dan Hamas.

"Kami siap bekerja sama dengan setiap usaha, terutama Mesir ... untuk mencapai kesepakatan definitif yang memenuhi tuntutan kami, yaitu secara permanen tidak ada lagi blokade dan dibukanya semua perlintasan perbatasan," ujar Moussa Abu Marzouk, pemimpin senior Hamas di Syria melalui siaran langsung di Syrian TV.

Kesediaan Hamas menghentikan baku tembak diduga terkait jumlah korban sipil yang terus meningkat. Selama perang terjadi, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, fasilitas PBB, dan ribuan rumah dibombardir Israel. Otoritas Palestina mengklaim nilai kerugian akibat konflik 22 hari itu mencapai USD 476 juta (Rp 5 triliun lebih). Nilai itu hanya untuk infrastruktur yang hancur.

Sekurang-kurangnya 1.206 warga Palestina, termasuk 410 anak-anak, terbunuh dari serangan maut Israel di wilayah itu sejak 27 Desember,. Petugas medis di Gaza juga menyatakan 5.300 orang dirawat karena luka-luka. Korban tewas dalam perang ini termasuk 109 perempuan, 113 orang tua, 14 paramedis, dan empat wartawan.

Israel mengatakan, sepuluh tentaranya dan tiga penduduknya terbunuh, baik dalam pertempuran maupun serangan roket. Selain itu, 200 lebih pasukan Israel terluka akibat tembakan lebih dari 700 roket dan mortar ke seluruh Israel oleh pejuang Hamas.

Satu-satunya pihak yang diuntungkan dari perang tak seimbang ini hanya politisi Israel yang berkuasa. PM Ehud Olmert yang reputasinya hancur gara-gara Perang Lebanon 2006 dan terjerat kasus korupsi kini punya jualan politik baru ke rakyat bahwa perang Gaza telah memperkuat deterens (kemampuan gertakan) Israel terhadap siapa pun yang mengancamnya. Untuk diketahui, gencatan senjata juga terjadi hanya kurang dari sebulan sebelum Israel menyelenggarakan pemilihan umum saat Olmert mestinya mengundurkan diri.

MER-C Tembus Gaza

Tim medis dari LSM bantuan kesehatan Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berhasil memasuki wilayah Gaza kemarin. Walaupun tanpa jaminan keselamatan, para relawan MER-C itu tetap masuk ke wilayah Palestina. Demi bisa melangkah ke daerah konflik tersebut, mereka telah dua kali menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut pemerintah Indonesia bila terjadi sesuatu.

''Ini risiko yang kami ambil untuk membantu sesama,'' ujar dr Faried Thalib, salah satu relawan MER-C yang ada di Mesir, melalui telepon dalam konferensi pers yang digelar di kantor MER-C, Jakarta, kemarin.

Faried menuturkan, Mesir selektif dalam memberikan izin atau surat rekomendasi. Selain relawan medis, lanjut dia, relawan umum dan jurnalis tidak diperbolehkan masuk Jalur Gaza. Hambatan izin inilah yang menyulitkan relawan umum untuk mendistribusikan tenaganya.

Presidium MER-C Henry Hidayatullah mengatakan, tim itu dikirim pada 1 Januari 2009 dan baru diperbolehkan masuk Gaza pada 17 Januari 2009. Tim, lanjut dia, bergerak dari perbatasan Mesir menuju Palestina menggunakan bus Gaza City dengan nomor 08-2822616, kemudian dipindah ke mobil ambulans untuk menuju Jalur Gaza.

Dari lima anggota tim yang dikirim, hanya empat orang yang masuk Jalur Gaza. Faried Thalib tetap di Al Arish yang menjadi posko MER-C untuk mengurus segala macam perizinan, termasuk untuk tim relawan kedua yang segera diberangkatkan.

Di bagian lain, gencatan senjata sepihak tersebut cukup memberi ruang napas bagi rakyat Gaza. Jawa Pos yang berada di Rafah, kota perbatasan Gaza dan Mesir, menyaksikan aliran bantuan yang masuk ke Gaza kemarin lebih lancar. Ini berbeda dengan situasi selama agresi Israel beberapa waktu lalu. Banyak sopir Palestina yang terhambat ketika menjemput bantuan.(AP/Rtr/zul/*/kim)

[JP Online, Rabu, 21 Januari 2009 ]
Menelusuri Terowongan Rahasia Penghubung Gaza dengan Mesir
Jual Paket Kambing Transfer Lubang Rp 1 Juta Per Ekor

Banyaknya terowongan rahasia di Rafah bukan semata-mata alat perjuangan melawan Israel, tapi juga aset ekonomi. Sebab, dari sana para pemilik terowongan bisa mendapat penghasilan ekonomi dari transaksi jasa perdagangan.

KARDONO SETYORAKHMADI, Rafah
---

LELAH karena tidak menemukan satu pun anfaq (terowongan) seperti yang diceritakan penerjemah saya, Ibrahim, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, siang itu saya kembali ke tanjakan Makbar Rafah (Gerbang Rafah). Tempat itu dihuni para jurnalis dan pekerja kemanusiaan yang setengah putus asa menunggu izin masuk ke Jalur Gaza. Di sana saya bertemu Dokter Sarbini Saut Murad, dokter asal Indonesia yang menjadi relawan di MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Dokter ini Sabtu (18/1) lalu mendapat izin dan berangkat ke Jalur Gaza bersama tiga koleganya sesama dokter asal tanah air.

''Susah membuktikannya, karena semuanya tertutup di sini,'' kata Sarbini saat saya bertanya tentang anfaq. Tak lama kemudian datanglah serombongan remaja laki-laki ABG yang sering berkeliaran di kawasan perbatasan. Entah mengapa, seorang di antaranya menyapa saya. Karena saya tak bisa berbahasa Arab, Sarbini kemudian menerjemahkannya untuk saya.

Rupanya, mereka menyapa karena mengira saya orang Palestina. ''Katanya, wajahmu mirip orang Palestina,'' kata Sarbini lantas terkekeh. Saya juga langsung terkekeh, karena baru kali ini saya yang Jawa tulen kelahiran Surabaya bisa disangka orang Palestina.

Saya lalu meminta Dokter Sarbini bertanya soal anfaq kepada para pemuda ini. Awalnya mereka kaget ketika ditanya soal itu, meski kemudian agak sedikit terbuka. Hanya, kata Sarbini, mereka ingin berbicara dan membahas ini langsung dengan saya. ''Karena kamu tak bisa bahasa Arab, mereka justru jadi lebih percaya kepada kamu daripada saya,'' kata dokter berewokan tersebut.

Rupanya, tak bisa berbahasa Arab kadang justru menguntungkan. Padahal, sebelumnya saya mendapat pengalaman memalukan karena tak bisa berbahasa Arab saat berada di Kairo, Rabu (14/1) malam. Saat itu saya berada di Terminal Abbasiya, melihat jadwal keberangkatan angkutan Kairo-Rafah.

Begitu masuk pintu penjagaan, seorang polisi bertanya. Saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia dan tak bisa bahasa Arab. Selanjutnya, dalam bahasa Inggris, laki-laki itu bertanya apakah saya muslim. Saya mengangguk, dan kemudian menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Aneh, dia mengernyit, lalu bertanya apakah orang Indonesia kalau salat pakai bahasa Indonesia. Tentu tidak, kata saya.

"Lalu, kenapa kok saya tidak bisa bahasa Arab?" katanya lagi. Saya jelaskan bahwa di Indonesia banyak orang bisa mengaji, tapi tak bisa berbahasa Arab.

Dia masih tak percaya dan saya disuruh melantunkan surat Al-Fatihah. Malam itu juga, di pos penjagaan terminal saya melantunkan Al-Fatihah. ''Do you believe me now (Kamu percaya sekarang)?'' tanya saya setelah selesai membaca. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, tapi sikapnya jauh lebih ramah.

Kembali ke anak-anak ABG Rafah tadi. Mereka kemudian mengajak saya ke kedai tempat minum teh panas. Saya lebih banyak pakai bahasa Tarzan, karena kemampuan berbahasa Arab saya sama dengan kemampuan mereka berbahasa Inggris. Mereka ingin tahu mengapa saya ingin mengetahui soal anfaq. Saya jelaskan saya wartawan dan ingin tahu langsung soal terowongan.

Saya pancing dengan pura-pura mengatakan kalau mereka sebenarnya juga tidak tahu soal terowongan. Pancingan saya berhasil. Mereka panas disebut tidak tahu. Saya menantang, kalau memang ada terowongan, tolong potretkan. Saya segera mengeluarkan kamera digital.

Salah satu di antaranya lantas pergi. Sekitar setengah jam kemudian, ABG bernama Mahmood itu kembali dan menyerahkan kamera. Saya lihat dia memotret lima kali. Satu memotret mulut terowongan, dan empat jepretan lainnya memperlihatkan bagian dalam mulut terowongan. Sayangnya, potret itu juga menunjukkan terowongan yang telah tertutup.

Salman -yang tampak dituakan oleh geng ABG itu- menjelaskan nyaris semua anfaq sudah ditutup. Ada yang diuruk dengan batu besar. Ada yang dibom bagian tengahnya supaya longsor dan tak bisa digunakan lagi. Selain itu, ada terowongan yang sebelum ditutup, disemprot dengan bahan kimia yang menyengat sehingga para penerobos tak kuat menahan bau.

Saya kemudian meminta mereka menunjukkan terowongan yang masih terbuka. Mendengar permintaan itu, Salman sempat melotot. Tapi, saya tetap mendesaknya. Akhirnya dia mengalah dan meminta saya kembali datang usai salat Magrib. "Jangan ambil gambar," pintanya. Saya menyanggupi.

Setelah magrib, saya datang bersama Rahmat, teman saya yang juga mahasiswa Universitas Al-Azhar. Dia membantu saya untuk jadi penerjemah. Kami janji bertemu di Makbar Rafah. Sampai di sana, Salman dan dua orang lainnya telah menunggu.

Kami kemudian berjalan ke arah utara sejauh sekitar 1,5 kilometer. Udara gurun Sinai yang dingin menelusup ke jaket. Sambil berjalan, Salman bercerita mengenai bagaimana "modus" penyelundupan itu. Menurut dia, terowongan tak hanya menghubungkan satu kebun (di Rafah Mesir) dengan kebun di seberang Rafah Gaza, tapi juga antara rumah dan rumah. Besar mulut terowonan bervariasi.

Yang paling besar adalah mulut terowongan yang ditemukan di dekat dengan gedung Imigrasi Mesir. Diameternya saja tiga meter. Selain itu, terowongan tersebut paling bagus karena konstruksi mulut terowongannya sudah dipasang batako, sehingga terkesan semi permanen. Namun, awal Januari lalu kedok terowongan tersebut terungkap. Dua kurir terowongan yang membawa dua karung bahan makanan tertangkap polisi Mesir saat masuk tengah malam. Bagian dalam terowongan kemudian dibom, sedangkan dua kurir itu hingga kini belum ada kabarnya.

Selain dimotivasi oleh keinginan membantu warga Gaza yang terisolasi blokade Israel, motif lain warga Rafah Mesir membuat terowongan adalah ekonomi. Umumnya yang diselundupkan adalah bahan makanan. Barang-barang itu ditransaksikan per paket. Satu pesanan paket karung makanan berisi roti dan macam-macam makanan lain seharga 200 pounds (sekitar Rp 400 ribu), misalnya, dibayar warga Rafah Palestina sekitar 500 pounds (sekitar Rp 1 juta). Sisa 300 pounds itulah yang menjadi keuntungan para kurir dan pemilik "rumah" (yang punya terowongan).

Karena tak bekerja sendirian, uang itu dibagi rata. Biasanya bertiga. Selain itu, bila ada permintaan khusus (berupa komoditas hidup seperti kambing atau sapi, harga menyesuaikan). Memang susah dibayangkan bagaimana kambing (bahkan sapi) bisa dibawa lewat lubang sempit itu. Yang jelas, untuk mendapatkan kambing, harga "paketnya" 500 pounds (Rp 1 juta). Sedangkan untuk sapi bisa sepuluh kali lipatnya.

"Saya pernah menjadi salah satu kurir," kata Salman. Malam makin larut. Kami lalu mempercepat langkah menuju terowongan yang disebut remaja berhidung mancung itu.[]

Sementara itu..


[JP Online, Selasa, 27 Januari 2009]
Wawancara dengan Petinggi Hamas Dr Sobhi Al Mazi
Kami Butuh Dukungan Indonesia

GAZA CITY - Setelah berusaha selama tiga hari, Jawa Pos berhasil menemui Dr Sobhi Al Mazi, orang nomor dua di Hamas. Siapa orang nomor satunya? Orang-orang Hamas tidak mau mengumumkan secara terbuka. Setelah Syekh Ahmad Yassin dan Dr Rantizzi terbunuh, kini Hamas memang mempunyai kebijakan untuk tak mengumumkan siapa pucuk pimpinan tertinggi mereka.

Melewati serangkain pemeriksaan, dengan ditemani dan diterjemahkan oleh Fauzi Barhoum, juru bicara Hamas, Jawa Pos berhasil mewawancarai figur penting itu di sebuah tempat tersembunyi. Berikut petikan wawancaranya.

Apakah agresi Israel terakhir ini membuat Hamas berpikir untuk bersatu dengan Fattah dan menghadapi Israel sebagai musuh bersama?

Kebijakan kami dan Fattah berbeda. Ada sebuah perbedaan yang cukup mendasar. Kami selalu konsisten dengan tidak mengakui pendudukan Israel, sementara Fattah justru berunding, bernegosiasi, berkompromi, dan malah menyerah ke Israel. Jelas itu sesuatu yang tak bisa diterima. Mereka (Fattah) berjalan ke arah sini, sementara kami ke arah sana (dr Sobhi menggerakkan tangan ke kiri dan kanan).

Bagaimana dengan tudingan Barat yang mengatakan agresi (Israel) kali ini disebabkan oleh serangan roket Hamas?

Saya kira itu tudingan yang berlebihan. Bukan Hamas yang memulai, tapi ini merupakan reaksi kami terhadap pendudukan (Israel terhadap tanah Palestina). Apa yang kami lakukan adalah sama dengan yang dilakukan negara-negara lain, yakni mempertahankan diri. Sejak awal kami konsisten menentang pendudukan, dan tentu saja kami berhak mempertahankan apa yang menjadi hak kami. Selain itu, Israel terus saja melancarkan agresinya dan terus berusaha memperluas wilayah okupasinya. Tudingan itu sama sekali tak beralasan. Publik dunia bisa menilai siapa yang benar dan siapa yang salah.

Beberapa hari belakangan ini santer terdengar kabar Israel akan menyerang lagi dan Hamas akan melancarkan serangan roket lagi. Serapuh apakah gencatan senjata unilateral kali ini?

Ya, ini memang gencatan senjata yang rapuh (fragile ceasefire). Tapi, sebagaimana Anda tahu, Israel sering melanggar gencatan senjata. (Kamis, 22/1, dan Jumat, 23/1, sniper Israel menembak enam orang Palestina dan kapal perang Israel menembak lima nelayan). Kami tidak kaget. Dan jangan salahkan kami bila terus melakukan perlawanan.

Bila ada serangan Israel lagi, bukankah yang menderita adalah rakyat Palestina. Apakah itu tidak menimbulkan kebencian rakyat terhadap Hamas?

Saya kira serangan Israel itu justru membuat rakyat dan Hamas bersatu. Logikanya, sejak 1948 (sejak negara Israel dideklarasikan di tanah Palestina) lalu, setidaknya, satu keluarga Palestina kehilangan dua anggota keluarganya. Apa yang dilakukan Israel justru membuat kami semakin kuat. Jangan dikira jiwa pejuang kami yang gugur itu mati. Tetap hidup dan menghidupi semangat pejuang kami selanjutnya. Yang dilakukan Israel justru adalah melahirkan sebuah generasi yang marah dan sangat radikal. Jadi, bila mereka (Israel, Red) berpikir dengan menyerang kami seperti yang terakhir kami akan menyerah, mereka salah besar.

Apa yang kini menjadi prioritas yang dilakukan Hamas pasca-agresi?

Yang pertama adalah memulihkan keamanan dan kehidupan di Jalur Gaza, dan juga menjalankan pemerintahan di sini. Memang sulit, tapi kami berusaha keras untuk itu. Kami juga masih mempunyai dana USD 42 juta. Kami juga telah memberi 200 keluarga yang paling malang nasibnya, masing-masing USD 1.000. Tapi, jujur saja, itu masih jauh dari cukup untuk merekonstruksi kembali. Kami membutuhkan bantuan.

Bantuan seperti apa yang Anda harapkan dari luar?

Semuanya, termasuk bantuan keuangan. Tapi, yang terpenting adalah bantuan dukungan dan moral. Semakin banyak yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, maka itu semakin baik. Terutama dari Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia bisa memainkan peranan sangat penting dalam konflik ini.

Artinya, bila seluruh dunia tahu apa yang terjadi, maka Israel dan sekutunya kalah. Sebenarnya kami sudah menang. Bangunan bisa rusak, infrastruktur bisa dihancurkan, tapi semangat perlawanan kami tak akan pernah hilang. Semakin direpresi, semakin kuat. Kami sudah menang.

Bagaimana Hamas menyikapi Obama (Barrack Obama, presiden baru AS)? Apakah mempunyai harapan tertentu?

(Tersenyum). Kami tetap menganggap Amerika sama saja seperti sebelumnya, kecuali bila Obama mengeluarkan pernyataan dan bersikap objektif tentang Palestina. Mungkin dia orang baik, tapi apakah seorang presiden Amerika bisa bersikap independen sepenuhnya (dari lobi Yahudi).

Terima kasih atas waktu Anda.

Afwan. Selamat datang di Hamas, dan kami ingin mempercayai Anda. Kami akan membantu tugas Anda terpenuhi, dan silakan cari dan tanyakan apa pun tentang Hamas. Kami akan membantu semaksimal mungkin.

Perbatasan Mesir Ditutup Lagi

Jalur Gaza dengan sekitar 1,5 juta warga kini kembali menjadi penjara besar. Itu terjadi setelah pemerintah Mesir kembali menutup perbatasan di Rafah sampai batas waktu yang tak ditentukan. Menurut sebuah sumber Jawa Pos di internal Hamas, penutupan perbatasan tersebut terjadi pada Minggu malam (25/1).

''Penutupan ini, kabarnya, dilakukan karena Israel bakal menyerang lagi,'' kata sumber Hamas yang menjadi petugas di perbatasan Makbar Rafah.

Setelah gencatan senjata unilateral itu, Israel tampaknya ingin melanjutkan serangan 22 hari terdahulu. Berdasar pantauan Jawa Pos yang masih tinggal di Gaza City, dentuman-dentuman suara tank sudah terdengar. Rupanya, tank-tank Merkava Israel yang standby di perbatasan Erez-Beit Hanoun sudah mulai melakukan penembakan-penembakan.

Pihak Hamas tak tinggal diam. Dikabarkan, mereka kini juga menyiapkan sejumlah roket-roket Qassam dalam jumlah besar.

Kendati belum dilaporkan adanya korban jiwa, situasi menjadi semakin tegang di Jalur Gaza. Pesawat-pesawat intai tak berawak Israel terus meraung-raung di langit Gaza. Pada agresi Israel yang terakhir, pesawat tersebut sering menjadi pertanda bakal adanya serangan udara.

Juru bicara Hamas Fauzi Barhoum mengatakan bahwa hal itu merupakan pertanda Israel tak pernah bisa dipercaya. ''Kami tak akan tinggal diam. Kami juga punya hak untuk membela diri,'' katanya.

Fauzi mengimbau kepada dunia internasional untuk melihat sendiri fakta yang ada. ''Di media Barat sering terjadi propaganda yang menyebut serangan roket kami sebagai provokasi perang,'' ucapnya. Padahal yang benar, kata dia, roket Hamas merupakan reaksi dari sikap Israel. (el)


Salam Persahabatan
ParaDIsE.group

Perpecahan Kabinet Israel

0 Comments »
Perpecahan Kabinet Israel
[JP Online, Kamis, 15 Januari 2009]
Menlu dan Menhan Minta Gencatan Senjata, PM Ingin Perang Diteruskan

JERUSALEM - Dari luar, Israel seperti tak bergeming terhadap derasnya tekanan internasional yang menghendaki mereka berhenti membantai di Jalur Gaza. Tapi, di dalam negeri mereka, negeri Zionis itu ternyata tak sekukuh dan sesolid yang diperkirakan banyak pihak.

Sebagaimana dilansir harian Inggris The Independent kemarin (14/1), perpecahan mulai menghinggapi kabinet pemerintahan negeri Yahudi itu. Tiga sosok yang paling bertanggung jawab terhadap penyerangan ke Gaza berseberangan pendapat. Menteri Luar Negeri Tzipi Livni dan Menteri Pertahanan Ehud Barak dilaporkan menghendaki gencatan senjata segera diadakan. Namun, Perdana Menteri Ehud Olmert bersikeras agar perang dilanjutkan.

Livni maupun Barak sama-sama kandidat kuat menjabat perdana menteri jika partai masing-masing menang pada pemilu 10 Februari mendatang. Livni, ketua umum Partai Kadima, dari awal sudah menyatakan tidak akan berdamai dengan Hamas.

Tapi, tekanan PBB dan dunia internasional membuat perempuan 48 tahun itu mulai berubah pikiran. Dia kini menginginkan gencatan senjata dengan syarat Hamas harus menghentikan serangan roket ke wilayah Israel. Jika Hamas menolak, barulah serangan lebih besar dilanjutkan ke Gaza.

"Sekarang kalian mengerti. Jika berani menyerang wilayah kami, balasannya bisa lebih kejam dan ini bagus," kata putri mantan agen Mossad (dinas rahasia Israel) itu yang ditujukan kepada Hamas seperti dikutip BBC.

Di sisi lain, Ehud Barak, pemimpin Partai Buruh, mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Hamas sebaiknya segera ditempuh lewat bantuan mediasi Mesir. Hanya, kata dia, kesepakatan tunggal di Kairo tak menjamin bakal terjadi perdamaian selamanya.

Sementara itu, Olmert menolak membeber alasan di balik sikap ngototnya untuk melanjutkan agresi. Mark Regev, juru bicara Olmert, hanya mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan hukuman bagi Hamas.

Jawaban justru datang dari kolumnis senior dan berpengaruh Israel Ben Caspit. Menurut dia, Olmert berkepentingan memperpanjang perang agar pelaksanaan pemilihan umum bisa ditunda. Dengan demikian, Olmert pun mendapatkan bonus tambahan masa tugas.

Selain itu, lanjut Caspit, dengan menumpas Hamas dan kemungkinan menyelamatkan Gilad Shalit -serdadu Israel yang diculik Hamas- Olmert ingin mencatat, dalam bahasa Caspit, "prestasi yang benar-benar bersejarah".

"Jika (prestasi yang benar-benar bersejarah) itu bisa diwujudkan, Olmert juga punya peluang lolos dari jerat kasus korupsi yang ditudingkan kepadanya," tulis Caspit di kolomnya di koran beroplah terbesar Israel, Yediot Aharonot.

Usamah bin Laden Serukan Rebut Al-Aqsha
KOTA GAZA - Pucuk pimpinan Al Qaidah Usamah bin Laden menyerukan agar umat muslim berjihad untuk menghentikan serangan Israel ke Jalur Gaza. Melalui rekaman suara, selain menyerukan jihad, Usamah juga menyesalkan pemerintah Arab yang mencegah aksi penduduknya untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina.

Berita rekaman suara Usamah bin Laden itu disebarkan dari situs Islam yang selama ini selalu menyebarkan rekaman suaranya. Pusat Intelijen Amerika Serikat menyatakan bahwa suara rekaman yang dikirimkan kemarin dipastikan keotentikannya. ''Hanya ada satu jalan untuk membawa kembali Al Aqsa dan Palestina, dan itu adalah jihad di jalan Allah," ujarnya.

Dalam rekaman sepanjang 22 menit itu, Usamah juga menyebut calon musuh besarnya, presiden terpilih AS Barack Obama, akan mendapat warisan masalah yang sangat berat dari George W. Bush. ''Sekarang Amerika telah menjadi pengemis dan ke depan akan semakin tidak berdaya," katanya merujuk pada krisis finansial yang menghancurkan perekonomian AS. Usamah menegaskan, kebangkrutan ekonomi itulah yang mendorong AS mendukung Israel menggempur Gaza untuk mengalihkan perhatian dunia.

Menanggapi kemunculan kembali musuh besarnya, Gedung Putih menuding dirilisnya lagi pidato Usamah tersebut semakin menunjukkan bahwa terdakwa otak serangan ke WTC pada 11 September 2001 itu telah terisolasi. ''Rekaman itu hanya demonstrasi bahwa dia semakin terisolasi serta ideologi, misi, dan agendanya semakin ditentang dunia," ujar Juru Bicara Gedung Putih Gordon Johndroe kemarin. Terakhir rekaman pidato Usamah muncul pada Mei 2008, saat Israel memperingati hari berdirinya ke-60. Pada rekaman itu, Usamah juga menyerukan kemerdekaan Palestina.

Dari medan tempur di Gaza, tiga roket dari Lebanon kembali menghantam wilayah Israel Utara kemarin (14/1).�Itu adalah insiden serupa kedua sejak Israel menyerbu Jalur Gaza yang sudah berlangsung 19 hari.

Polisi Israel mengatakan, roket itu jatuh ke wilayah terbuka di kota Kiryat Shemona dan tidak ada laporan korban jiwa. Warga Israel di wilayah utara sudah diminta mengamankan diri menuju perlindungan bom.

Empat roket dari Lebanon juga mendarat di Israel Utara, Kamis (8/1) lalu. Pejuang Hizbullah yang bermarkas di Lebanon membantah menembakkan roket-roket tersebut. Kelompok-kelompok pejuang Palestina berskala kecil yang juga bermarkas di Lebanon diduga menjadi pelakunya.

Para pejabat Israel mengungkapkan kekhawatirannya bahwa para milisi di Lebanon berusaha melibatkan diri sebagai bentuk solidaritas atas serangan Israel terhadap wilayah Hamas di Gaza. Para pejabat Lebanon mengatakan, tentara Israel langsung membalas tembakan roket itu dengan menembakkan mortir ke Lebanon Selatan. Militer Israel mengatakan, tembakan tersebut diarahkan ke sumber peluncuran roket.

Sementara itu, pesawat-pesawat tempur Israel terus menggempur wilayah Gaza. Dalam sebuah serangan, mereka menghantam kompleks pemamakan, tempat peluncuran roket, gudang senjata, dan terowongan di Jalur Gaza.

Kemarin Sekjen PBB Ban Ki-moon tiba di Kairo, Mesir, untuk mendesak Israel dan Hamas mematuhi resolusi gencatan senjata.Sejauh ini, sedikitnya 975 warga Palestina tewas dalam serangan Israel. Sebanyak 13 warga atau tentara Israel juga tewas, empat di antara mereka terkena roket dari Gaza dalam pertempuran sejak 27 Desember itu. (AP/BBC/Rtr/kim)

(JPNN.COM, Rabu, 07 Januari 2009 , 11:31:00)
Seberapa Luaskah Wilayah Gaza Itu?
Status Bukan Provinsi Bukan Negara Bagian

TIDAK lebih dari 500 kilometer persegi. Lebarnya hanya sekitar 10 kilometer dan panjangnya 50 kilometer. Kalau di Jatim, kira-kira hanya sama dengan dari Bangil ke Probolinggo. Lebarnya hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil-Beji. Atau sama dengan dari Tanjung Kodok ke Tuban. Wilayah itu berbukit, tapi tidak bergunung. Dataran paling tinggi hanya 150 meter. Meski punya pesisir sepanjang 45 kilometer, seluruh akses ke Laut Tengah itu dikuasai Israel. Bandaranya juga dikuasai Israel. Satu-satunya batas yang bukan Israel adalah bagian selatannya sepanjang 12 kilometer: berbatasan dengan Mesir.

Meski Gaza ini bagian dari wilayah negara Palestina, kalau mau ke ibu kota harus melalui daratan Israel sejauh kira-kira 40 kilometer. Ini berarti orang Palestina di wilayah Gaza kalau mau ke wilayah Palestina yang lain di Tepi Barat harus mengantongi paspor dan harus mendapat izin Israel. Luas wilayah Palestina yang di timur (disebut Tepi Barat, karena letaknya di tepi barat Sungai Jordan) itu sekitar lima kali lebih besar dari Gaza. Di wilayah Tepi Barat ini penduduknya sekitar 2,5 juta orang. Dengan demikian, kalau Gaza dan Tepi Barat dijumlah, penduduk Palestina 4 juta orang (wilayah Gaza berpenduduk 1,5 juta).

Israel memang berjanji menyerahkan wilayah Palestina kepada orang Palestina secara bertahap. Mula-mula hanya Jericho, satu kota sebesar Kecamatan Tulangan (Sidoarjo, Jatim) di timur Jerusalem. Lalu sebagian lagi wilayah di utara Jerusalem. Lalu bagian lain Tepi Barat. Tiga tahun lalu barulah wilayah Gaza yang diserahkan. Masih banyak lagi yang mestinya diserahkan, tapi diragukan apakah Israel masih mau menyerahkan sisanya. Termasuk Dataran Tinggi Golan yang harus dikembalikan ke Syiria.

Sejak diserahkan ke Palestina tiga tahun lalu, status Gaza tidak jelas. Bukan provinsi, bukan juga negara bagian. Bahkan, antara Gaza dan Tepi Barat hampir tidak ada hubungan sama sekali. Baik hubungan transportasi maupun hubungan politik. Gaza seperti tidak ada hubungan apa-apa dengan pemerintah pusat di wilayah Tepi Barat.

Di wilayah Gaza hampir 100 persen penduduknya pengikut Hamas. Yakni, aliran yang tidak mau menggunakan jalan diplomasi dalam merebut semua wilayah Palestina. Hamas tidak percaya Israel mau secara suka rela mengembalikan wilayah Palestina, termasuk Jerusalem. Hamas pernah minta agar seluruh wilayah Palestina dan Israel itu jadi satu negara saja: Negara Palestina. Bahwa sebagian besar penduduk negara ”baru” itu beragama Yahudi, tidak apa-apa. Demokrasi yang akan mengatasi hubungan mayoritas-minoritas itu (Yahudi 7 juta, Palestina 4 juta). Israel menolak, karena khawatir lama-lama penduduk Arab (Palestina) akan mayoritas.

Kalau di Gaza penduduknya adalah pengikut Hamas, di Palestina wilayah timur (Tepi Barat) penduduknya mayoritas pengikut kelompok Fatah. Yakni, kelompok yang juga berjuang mengembalikan seluruh wilayah Palestina, tapi melalui jalan perundingan. Dua kelompok ini sering terlibat dalam perang bersenjata secara terbuka dan menelan banyak korban. Dengan demikian, meski Negara Palestina itu satu, pemerintahannya sebenarnya ada dua. Pemerintahan di Tepi Barat dipegang Fatah dan pemerintahan di Gaza dipegang Hamas.

Israel memang kelihatan tidak mau kehilangan kontrol. Wilayah timur (Tepi Barat) itu diserahkan ke Palestina tidak secara utuh. Wilayah Jericho, ibarat satu pulau kecil di tengah-tengah Israel. Wilayah utara juga seperti pulau besar di tengah-tengah Israel. Wilayah selatan juga berada di tengah-tengah wilayah Israel. Wilayah utara yang agak luas pun, bentuknya lucu karena banyak wilayah Israel yang menjorok ke wilayah Palestina di sana-sini.

Jadi, Palestina yang sekarang sebenarnya bukan terbagi dua wilayah (Gaza dan Tepi Barat), tapi terbagi empat atau lima wilayah yang tersebar di tengah-tengah negara Yahudi.(*)


Salam Persahabatan
ParaDIsE.group